Gangguan Kesehatan Mental Dan Cara Mengatasinya

Gangguan Kesehatan Mental – Kehidupan modern yang makin kompleks melahirkan berbagai efek negatif di berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan psikis. Makin banyak orang yang mengalami situasi penyimpangan psikologis – bahkan tak sedikit yang mengakhiri hidup secara tragis karenanya.  Dalam buku Hide & Seek, Psychology of Self Deception, Dr. Neel Burton, M.D menggolongkan gangguan kejiwaan modern dalam tiga kategori besar, yaitu Cluster A (berperilaku aneh, eksentrik), Cluter B (dramatis, labil, over reaktif), dan Cluster C (penuh kecurigaan, takut berlebihan). Kami merumuskannya dalam 10 gangguan psikologis berikut.

1. Borderline

Borderline disebut gangguan kepribadian karena seseorang yang menderitanya berada dalam kondisi neurotik (kecemasan) dan gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan gangguan afektif bipolar.  Biasanya, borderline merupakan hasil dari trauma masa kanak-kanak, seperti pelecehan seksual. Borderline sering terjadi pada wanita karena wanita lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual masa kecil.

Indikasi: Gejala penderita borderline hampir sama dengan penyimpangan kepribadian lainnya. Mereka cenderung menarik diri dari pergaulan, tertutup (introvert), pendiam, sering gundah tanpa alasan, dan terkadang kecemasan itu berpengaruh pada kondisi kesehatan (psikosomatis).

2. Paranoid

Gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh ketidakpercayaan terhadap orang lain, termasuk teman-teman dan bahkan pada pasangannya. Ketidakpercayaan yang luar biasa itu membuatnya selalu dihantui ketakutan.

Indikasi: Orang dengan paranoid akan selalu gelisah, mudah curiga, serta terus-menerus mencari petunjuk atau saran untuk meredakan ketakutannya yang tanpa sebab itu. Orang ini akan sangat sensitif, mudah tersinggung, sangat pemalu, mudah merasa terhina, dan pendendam.

Solusi: Selain dengan bimbingan dari konselor, orang yang mengalami paranoid harus mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya agar sedikit demi sedikit berani memberi kepercayaan pada orang lain.

3. Skizofrenia

Istilah ‘skizofrenia’ pertama kali dimunculkan oleh Bleuler pada 1908. Sebenarnya, istilah ini merujuk pada suatu  kecenderungan psikis alami seseorang  untuk mengarahkan perhatiannya pada  kehidupan batinnya – jauh dari dunia luar. Nah, dalam konteks gangguan kepribadian, skizofrenia digunakan  untuk mengistilahkan keadaan psikis orang yang cenderung memisahkan diri dari lingkungan luar secara ekstrim.

Indikasi: Orang dengan skizofrenia gemar menyendiri, mempunyai fantasi sendiri, tidak memiliki keinginan untuk berhubungan sosial, cenderung tidak mempunyai dorongan seksual, acuh tak acuh terhadap orang lain, anti terhadap norma-norma sosial, tidak memiliki respon emosional, dan tampak  tak berperasaan.

Solusi: Terapi bagi orang dengan skizofrenia kadang tidak diberikan selama penderita masih dalam tataran aman – tidak membahayakan orang lain. Sebenarnya, orang dengan gangguan kepribadian ini mempunyai kehidupan batin yang kaya, namun di satu sisi, mereka tetap memendam kerinduan untuk menjalankan relasi hangat dengan lingkungan sekitarnya. Karenanya, dukungan dari keluarga dan orang terdekat dapat membantu mereka untuk sedikit keluar dari zona pribadi mereka.

4. Schizotypal

Penyimpangan psikis ini membuat seseorang mempunyai delusi – suatu imajinasi yang dibuat seolah-olah nyata dan diyakini kebenarannya, walaupun sebenarnya orang tersebut tahu secara logis bahwa apa yang diyakininya itu tidak sesuai kenyataan.

Indikasi: Gangguan Schizotypal ditandai dengan keanehan dari penampilan, perilaku, dan bicara,  berkeyakinan aneh, mengaitkan segala hal dengan magis, renungan obsesif,  mempunyai pengalaman persepsi yang tidak biasa, dan menghidari kontak sosial.

Solusi: Schizotypal sering disebut dengan skizofrenia laten sehingga seperti halnya dukungan terhadap penderita skizofrenia, orang dengan schizotypal harus mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk bersosialisasi. Dia perlu terbuka untuk menyampaikan gagasannya – yang kadang terdengar ngawur – dalam sebuah diskusi sehingga dia tetap memperoleh prespektif yang normal.

5. Antisosial

Gangguan kepribadian antisosial adalah jenis kondisi mental kronis seseorang yang mengalami masalah dalam cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial biasanya tidak memperhatikan benar dan salah, mengabaikan orang lain, dan tak peduli dengan keadaan lingkungan sekitar.

Indikasi: Tidak peduli dengan perasaan orang lain, mudah marah, suka mengabaikan aturan dan kewajiban sosial, agresif, impulsif saat bertindak, tidak memiliki rasa bersalah, dan tidak bisa belajar dari pengalaman kegagalan.

Solusi: Kecenderungan antisosial yang telah sampai pada tahap merusak akan sangat merugikan penderita dan orang-orang didekatnya. Gangguan kepribadian antisosial sangat sulit untuk diobati. Orang dengan gangguan ini membutuhkan perawatan psikiater atau dokter ahli kejiwaan.  Mereka membutuhkan terapi tindak lanjut dalam jangka panjang.